Search
  • devinovianti

Happiness is just a choice...Masak sih????


Ketika saya share post facebook dari Dr. Dain Heer yang artinya " dalam keadaan sejelek apapun, saya masih bisa bahagia", banyak orang yang mengerenyit. Masak sih dalam keadaan seperti apa pun, kita masih bisa bahagia? Tapi kalau kita lihat lebih jauh lagi ke dalam masyarakat Indonesia sendiri, betapa banyak orang yang kelihatannya susah dimata kita, tetapi mereka tetap bahagia, baik hati dan mempunyai spirit untuk memberi.

Beberapa tahun yang lalu saya pergi ke Jogja dan bertemu dengan penjual kipas. Dari harga yang tinggi, saya berhasil menawar dan mendapatkan 5 kipas dengan harga yang menurut saya amat murah. (Saya tidak ingat pastinya berapa). Si ibu penjual tetap merasa senang dan dia mendoakan supaya rezki saya lancar, dsb. Dan dari cara si Ibu penjual mengucapkan doa tersebut, saya dapat melihat ketulusan dia dalam mendoakan. Bukan hanya sekedar bicara. Ini membuat hati saya trenyuh dan menurut saya ini adalah contoh bahwa si Ibu penjual ini, walaupun dalam keadaan ekonomi yang mungkin pas pasan, tetap memilih kebahagiaan dan oleh karena itu bisa mendoakan orang lain dengan ketulusan.

Selain itu, dalam kehidupan saya, saya selalu membuat pilihan untuk melakukan sesuatu yang membawa kebahagian dalam hidup saya dalam keadaan "seburuk" apapun.

23 tahun yang lalu saya menikah dengan suami yang menjadi ayah dari kedua anak saya. Karena banyak hal, didalam 12 tahun perkawinan saya, saya mendapatkan banyak tantangan. Pada suatu saat, saya pernah bermimpi untuk pergi kelaut dan menenggelamkan diri sendir. Tetapi saya sadar, bahwa banyak cara yang bisa memberikan kebahagian walaupun dalam kondisi rumah tangga yang tidak membahagiakan. Mulailah saya mendesign hari-hari saya dimana saya bisa mendapatkan kebahagian.

Banyak cara yang dapat ditempuh untuk menjaga spirit dan kebahagiaan Anda tetap tinggi, tetapi pada saat itu yang saya pilih adalah untuk memastikan setiap hari ada waktu buat saya sendiri. Saya pergi ke tempat senam, karena saya senang menari. Saya ambil dancing lesson, seminggu sekali. Saya kerja part time dan jika ada waktu luang, saya tetap melakukan pekerjaan suka rela. Saya juga mempunyai koleksi kumpulan lagu, dimana ketika saya mendengar lagu tersebut, hati saya akan terbuka dan ini dapat merubah mood saya. Lalu saya juga menjaga kekerabatan dengan teman, sehingga saya ada teman curhat dan saya tidak pernah lupa untuk bersyukur terhadap apa yang saya miliki dan dapatkan.

Sewaktu saya memutuskan berpisah dengan suami sepuluh tahun yang lalu, teman saya tidak ada yang menyangka bahwa saya tidak bahagia dalam perkawinan saya, karena mereka selalu mengenal saya sebagai orang periang. Ini dikarenakan saya melihat kebahagian saya adalah tanggungjawab saya. Jadi walaupun perkawinan saya tidak bahagia, sebagai individu saya tetap bisa memilih dan mengambil tindakan supaya saya bisa berbahagia.

Setelah saya mempelajari Access Consciousness, saya merasa bahwa kalau saja saya mempelajari Access Consciousness dari dahulu, maka saya mungkin akan mengambil sikap atau approach yang berbeda dalam perkawinan saya. Tetapi walaupun begitu, saya tetap merasa keputusan untuk menikah dengan eks suami adalah salah satu keputusan terbaik yang saya ambil dan keputusan berpisahpun merupakan salah satu keputusan terbaik yang saya ambil pada saat itu.

Jadi pertanyaan saya kepada Anda, apakah Anda membuat diri Anda sendiri berbahagia?

Ataukah Anda menggantungkan kebahagian Anda pada orang lain?


11 views