Search
  • devinovianti

Apa Modus Operandi Anda Sehubungan Dengan Uang?


Sejak pertengahan bulan July 2016 sampai dengan pertengahan October 2016, saya turut serta dalam pengkreasian 8 kelas dan dua diantaranya kelas saya sendiri. Dalam 3 bulan itu, topik uang selalu muncul kepermukaan, sehingga ini membuat saya melihat isu ini lebih dalam lagi. Terlebih lagi karena pengalaman terakhir, yang terjadi ketika saya dalam perjalanan kembali ke Hong Kong dari Jakarta.

Pada hari Minggu yang lalu (23.10.2016), supir taksi saya menurunkan saya di terminal 3, padahal saya seharusnya turung di terminal 2. Saya memutuskan kembali ke keterminal 2 dengan memakai taksi dan mengambil urutan nomor di jalur 1 (bukan taksi Blue Bird), karena taksi Blue Bird antriannya panjang. Sewaktu saya berada di dalam taksi, baru saya sadar bahwa dia tidak menghidupkan argo. Ketika saya bertanya, supir taksi minta dibayar harga transfer standard, yaitu Rp. 50,000.

Pada saat itu, saya memutuskan untuk membayar (kalau memang tidak ada pilihan lain), tapi saya juga ingin mengangkat awareness supir taksi ini. Saya bilang " Pak, sewaktu saya antri, saya diberitahu ini akan pakai argo dan kenapa banyak orang memilih taksi Blue Bird, karena mereka takut ditipu dengan memakai taksi lain. Dan Bapak baru saja mengkonfirmasikan anggapan tsb. Apakah pernah terpikir oleh Bapak, bahwa tindakan Bapak ini merusak potensi nafkah Bapak dimasa yang akan datang?". Supir taksi ini akhirnya memperbolehkan saya untuk membayar sesuai dengan keinginan saya dan saya memutuskan untuk memberi Rp.30,000 yang mana termasuk cukup tinggi dibandingkan dengan harga sesuai argo, tetapi karena saya merasa tertolong juga oleh Bapak tersebut, saya tidak berkeberatan untuk memberikan jumlah tsb.

Dalam perjalanan pulang, kejadian ini membuat saya berpikir lebih lanjut mengenai uang. Dibawah ini beberapa isu yang muncul dikepala saya.

1. Uang adalah energy yang sifatnya netral dan pentingnya berinteraksi dengan asas kontribusi yang saling menguntungkan.

Sewaktu saya kecil saya diajarkan untuk lebih baik memberi daripada menerima. Pemikiran ini dikuatkan dengan 12 tahun bekerja di bidang sosial. Saya merasa bahwa identifikasi orang baik itu adalah orang yang memberi tanpa meminta. Kalau saya bertemu dengan "healer" dan meminta bayaran, saya langsung mempunyai judgment bahwa orang tersebut adalah orang yang tidak baik dan pasti ada maunya. Pikiran ini juga membuat saya sulit menerima kontribusi dari orang lain. Tetapi setelah saya mempelajari Access Consciousness lebih jauh, saya melihat bahwa uang itu netral, tetapi sipemakai uang tsb, yang membuat pandangan kita terhadap uang menjadi buruk. Misalkan pada kejadian supir taksi diatas, kita mungkin berkesimpulan bahwa supir taksi ini dimotivasi oleh uang, makanya uang itu jahat. Tapi apakah mungkin kalau perlakuan supir taksi tadi dimotivasi oleh kepercayaan bahwa uang itu susah dan kita hidup didunia yang kekurangan (sense of lacking)?

Selain itu, menurut saya jika kita memberikan jasa tanpa memakai asas kontribusi, maka kita sebenarnya membiasakan orang lain mendapatkan gratisan yang kemudian dapat berlanjut kedalam modus operandi asas pemanfaatan. Selain itu, pemberi jasa akan merasa bahwa usahanya tidak dihargai dan akhirnya dia berhenti melakukan sesuatu yang baik dan menguntungkan orang banyak. Bayangkan seorang dokter yang merupakan healer dari segi kedokteran barat tidak diperbolehkan menerima bayaran sama sekali, apakah akan ada orang yang mau jadi dokter?

2. "Lacking" atau perasaan kekurangan

Perasaan lacking adalah perasaan bahwa kita hidup dalam dunia yang kekurangan. Ini dapat membuat orang merasa sayang untuk mengeluarkan uang untuk dirinya sendiri seperti ke dokter, mencari pengetahuan baru atau menjadikan orang memakai azas pemanfaatan tadi. Hal ini juga saya alami pada proses penyelenggaraan suatu kelas.

Pada suatu saat saya menyelenggarakan workshop untuk teman saya, seorang coaching ternama dari Jakarta. Karena kita mengadakan acara ini dengan niatan untuk membantu mencerdaskan bangsa, jadi kita meminta kontribusi sekitar Rp. 150,000 yang mana setara dengan harga paket makan siang. Acara ini sengaja diberi harga sekian karena acara ini ditujukan untuk buruh migran dan biaya tersebut akan dipergunakan untuk mengganti sewa gedung dan biaya makan siang. Tetapi dengan harga sekian, hanya 1 orang yang mendaftar. Sambutan ini berbeda sekali ketika saya mengumumkan acara ini tanpa mencantumkan harga. Pada saat itu, saya mendapatkan sambutan yang sangat meriah.

Bagi saya, ini memperlihatkan bahwa terdapat perasaan kekurangan (lacking) yang amat kental, karena ada perasaan sayang untuk mengeluarkan uang tersebut untuk berinvestasi pada diri sendiri (walaupun jumlahnya uang tersebut setara dengan biaya makan siang sendiri).

Saya secara pribadi tidak percaya bahwa kita hidup dalam dunia yang kekurangan. Pada masa kecil saya, saya mengalami masa-masa sulit dimana saya harus ikut ibu saya berjualan kosmetik dari rumah kerumah, tetapi keluarga saya tidak pernah membuat saya merasa kekurangan.

Pada awal masa berpisah dari perkawinan saya (10 tahun yang lalu), saya berpenghasilan HK$16,000 perbulan dan uang sewa flat saya adalah HK$8000 perbulan. Tapi pada masa tersebut, saya tetap dapat melakukan perjalanan keluar negeri, berkumpul dengan teman teman dan hidup saya tetap menyenangkan. Saya ingat pada saat keluar rumah perkawinan, saya sempat berpikir bahwa status boleh janda tetapi tidak berarti saya harus miskin :) dan permintaan ini dikabulkan dan untuk itu saya selalu merasa bersyukur.

3. Pentingnya bersyukur dengan apa yang kita miliki.

Apakah pernah Anda memberi sesuatu kepada anak, teman atau saudara, tetapi yang anda terima dari mereka adalah cibiran atau cemo'ohan. Koq cuma seperti ini? Perasaan Anda bagaimana? Apakah Anda dengan senang hati untuk memberi hadiah lagi atau Anda akan merasa malas untuk memberi?

Saya merasa bahwa Tuhan/Universe/Allah (tergantung pada kepercayaan Anda), juga akan lebih senang memberi jika kita berterimakasih atas segala anugrahnya. Oleh karena itu saya merasa penting untuk selalu bersyukur dan berterimakasih atas segala sesuatu yang saya dapatkan/miliki.

4. Mempergunakan uang untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar

Dalam proses menciptakan kelas-kelas diatas tadi, saya melihat bahwa fasilitator tersebut mau mempergunakan uangnya sendiri untuk membiayai kelas mereka untuk menciptakan perubahan pada diri orang banyak. (Tidak semua kelas menghasilkan uang). Tetapi tanpa mengeluh para fasilitator tersebut tetap hadir diacara yang mereka sudah komitkan.

Ini mengingatkan saya pada cerita Gary Douglas, pendiri Access Consciousness yang berpatungan dengan Dr. Dain Heer untuk memberikan sebuah mobil kepada teman baik mereka karena teman tersebut merasa tidak akan mungkin buat dia membeli mobil tersebut. Pemberian mobil ini merubah pandangan dari teman tadi karena dia tidak lagi merasa bahwa uang itu sulit dan dalam satu tahun teman tadi membeli rumah dan berkeliling dunia untuk mengajar. Gary juga mengatakan bahwa Access Consciousness juga berkembang dengan pesat dalam satu tahun tersebut karena uang yang dia pergunakan untuk membeli mobil tadi, kembali berlipat ganda dari berbagai macam cara, karena Gary percaya bahwa uang bisa datang dari mana saja.

Atau dari segi lain, mana yang menurut Anda mempunyai potensi lebih besar?

a.menaruh Rp.500,000 dibank, atau

b. mempergunakan uang tersebut sebagai modal usaha?

Jadi balik lagi kepada judul blog ini, bagaimanakah hubungan Anda dengan uang?

Bagaimanakah Anda mempergunakan uang Anda?


21 views