Search
  • devinovianti

Tahukah Anda, jika Anda tidak menentukan jati diri Anda sendiri, maka orang lain yang akan menentuka


Bulan February yang lalu, anak saya pergi ke Australia untuk melanjutkan sekolahnya. Beberapa tahun sebelum keberangkatannya, anak saya sibuk untuk menentukan subyek mata kuliahnya, apakah dia mau masuk farmakologi, atau psikologi dan sebagainya.

Pada awalnya, karena melihat anak saya pandai berdebat dan mempunyai nalar amat tinggi, saya menyarankan agar dia masuk ke fakultas hukum. Dan saya amat bangga terhadap anak saya karena dia bersikeras untuk masuk fakultas farmasi.

Proses ini membuat saya berfikir, berapa banyak kita membiarkan orang lain membuat keputusan atas kehidupan kita, padahal kita mampu membuat keputusan atas kehidupan kita sendiri? Dan seberapa jauh kita membiarkan dunia luar meempengaruhi jati diri kita? Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa banyak kita memaksakan kehendak kita terhadap orang lain atas identitas orang tersebut?

Salah satu pelajaran yang saya ambil dari kehidupan saya, setelah belajar Access Consciousness dan Dream Builders Life Coaching programme, bahwa hidup kita akan lebih mudah kalau kita menjadi diri kita sendiri dan tidak hidup berdasarkan identitas yang diberikan oleh orang lain. Bayangkan, kalau kita harus akting, karena tuntutan dunia luar, maka energy kita akan banyak terpakai untuk memenuhi harapan dari dunia luar, padahal energy kita harusnya dipergunakan untuk menciptakan kehidupan yang kita inginkan, dan ini akan menghambat pertumbuhan diri kita sendiri. Dan seperti kata pepatah, sejauh tupai melompat, dia akan jatuh juga. Jadi sepandai-pandainya kita berakting untuk memenuhi harapan yang ditanamkan kepada kita, pada suatu saat akhirnya kita akan lelah untuk memenuhi harapan orang lain dan mungkin kita akan berontak dan akhirnya menjadi diri sendiri.

Contoh yang paling mudah kita lihat dalam hubungan romantis. Pada awalnya, kita mencoba untuk merubah prilaku kita sesuai yang diharapkan oleh pasangan kita atau yang diharapkan oleh dunia berdasarkan peran gender, dan hal yang sama dilakukan oleh pasangan kita. Ketika kita sama-sama lelah dalam berakting, kita kembali keasal karakter kita sendiri dan lalu kita merasa bahwa pasangan kita berubah. Padahal belum tentu dia berubah. Kemungkinan dia kembali kekarakter asal.

Diperlukan keberaanian untuk dapat menghadapi dunia luar dan memperlihatkan diri kita sebagaimana adaanya. Tetapi bukankah akan lebih mudah kalau dari awal hubungan, kita tetap menjadi diri kita sendiri? Dan kalau bukan sekarang, kapan lagi?


21 views