Search
  • Devi Novianti

Kebesaran Masa Depan Apa Yang Akan Tercipta, Jika Anda Tidak Menciptakan Pemisahan Pada Kehidupan An


Pada akhir bulan Agustus kemarin, saya mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk mengajarkan Access Bars, Access Energetic Facelift, MTVSS dan kelas tentang uang di Makassar. Pada suatu kelas, ada seorang anak kecil yang hadir dikelas saya. Sebagaimana anak kecil lainnya, dia merasa bosan karena harus tinggal dikelas selama seharian.

Dengan logat Makassar, ibunya meminta anak tersebut untuk bersabar dan mengingatkan anaknya yang bercita-cita untuk menjadi tentara untuk membela negara, bahwa untuk menjadi tentara, membutuhkan disiplin dan kesabaran.

Melihat perbincangan antara ibu dan anak ini, membuat saya terharu. Saya terharu, karena si anak kecil ini yang keturunan China melihat Indonesia sebagai negaranya yang perlu dibela. Saya terharu karena anak tersebut tidak menciptakan pemisah (no seperation) antara dirinya, sebagai seorang anak berketurunan China dengan seluruh bangsa Indonesia.

Saya lalu berpikiran, apakah anak tersebut akan mempunyai perasaan yang sama sepuluh tahun mendatang? Apalagi kalau dia mengalami perbedaan perlakuan dari masyarakat mayoritas Indonesia? Atau setelah mendengar cerita bagaimana kelenteng di Makassar dibakar pada tahun 1997 karena orang gila keturunan China membunuh seorang anak di Makassar? Atau ketika keributan terjadi di Jakarta, yeng mentargetkan masyarakat keturunan China di tahun 1998?

Salah satu konsep yang diajarkan dari Access Consciousness adalah untuk tidak menciptakan pemisahan (seperation), penghakiman (judgment) dan kesimpulan (conclusion) terhadap orang lain didalam kehidupan kita. Si anak kecil tersebut tidak punya judgment dan pemisahan atas dasar rasnya, atau ras orang disekililingnya, yang berbeda dengan dia, Dia melihat dirinya bagian dari Bangsa Indonesia. Sebaliknya, banyak masyarakat Indonesia yang menciptakan pemisahan berdasarkan identitas, agama, suku bangsa dsb dan menyimpulkan seseorang dari ras lain atau agama lain atau orang dengan status sosial yang berbeda, adalah dibawah dari dirinya. Akibatnya, sering terjadi keributan ras, seperti yang terjadi di Papua pada saat ini

Bayangkan, jika Anda melihat semua orang seperti yang diajarkan oleh agama, bahwa setiap orang adalah sederajat, kecuali berdasarkan ibadahnya (jika kita mengikuti ajaran Islam), atau bahwa semua orang diciptakan berdasarkan image Tuhan (bagi yang beragama Kristen). Tuhan/sang pencipta tidak membedakan kenikmatan yang dia berikan pada setiap ciptaannya karena jika kita lihat banyak orang yang kaya dan sejahtera dari berbagai macam bangsa dengan latar belakang suku, agama dan pendidikan yang berbeda.

Kehidupan bagaimanakah yang akan tercipta, jika semua orang yang tinggal di Indonesia merasa bahwa kita satu adalah satu bangsa?

Dan layaknya seperti keluarga yang tinggal di satu rumah, apakah kita akan menciptakan sesuatu yang lebih besar kepada kehidupan keluarga kita, jika kita selalu mencari cari kesalahan atau menuduh tanpa dasar atas salah satu anak atau saudara kita atau pasangan kita, dibandingkan jika kita merasa bangga atas pasangan, anak, atau saudara kita tersebut terhadap prestasi yang mereka raih, walaupun sekecil apapun? Apakah si anak atau pasangan kita akan menambah kecintaannya kepada kita, jika kita memperlakukan mereka dengan penuh kecintaan atau dengan kebencian? Apakah seseorang akan mau memberikan Anda suatu kebaikan, jika Anda mempunyai judgment atau kesimpulan yang buruk terhadap orang tersebut?

Gary Douglas, pendiri Access Consciousness mengatakan bahwa seseorang akan mau melakukan sesuatu kebaikan pada Anda, jika mereka merasa bersyukur terhadap keberadaan Anda.

Bayangkan betapa besar rezki atau anugrah yang akan Anda terima, ketika Anda tidak melakukan pemisahan terhadap seseorang berdaasarkan ras, suku, agama, pendidikan atau status sosial dan dimana Anda mau berkontribusi terhadap setiap orang dan makhluk yang berada di Bumi tercinta?

#oleh-oleh dari Makassar


63 views