Search
  • devinovianti

Apakah Kita Mensabotase Masa Depan Anak Kita Sendiri, Ataukah Kita Mempersiapkan Anak Kita Untuk Ter


Sebagai Fasilitator Access Consciousness, saya harus menjelaskan tentang Access Clearing Statement; dan salah satu bagian dari Clearing Statement ini adalah "Point of Creation" atau POC dan "Point of Destruction" atau POD.

Contoh yang paling sering saya kemukakan untuk POC and POD ini adalah pengalaman saya sewaktu remaja. Pada saat itu, saya kira-kira berusia 19 tahun dan ayah saya (Alm) bertanya, apa shio (Chinese Horoscope) saya. Saya jawab " Rooster" atau ayam jago. Papa saya lalu berkomentar " Oh kalau gitu sama dong sama Mama. Nanti, seperti mama juga, akan mengais nafkah, karena itu adalah tugas rooster".

Saya amat kaget mendengar omongan papa saya tersebut karena ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh saya. Tetapi berhubung yang bicara itu adalah papa saya, orang yang lebih diatas saya, maka saya percaya dengan omongan papa saya. Dan memang saya melihat bagaimana mama saya berjuang dalam memberikan kehidupan yang lebih baik untuk saya dan adik saya (Mama dan papa saya pisah sejak saya umur 14 tahun). Pada saat itu, otak saya berputar, untuk mencari jalan bagaimana supaya masa depan saya tidak sama dengan apa yang dialami mama saya. Ini adalah Point of Creation saya.

Point of Destruction saya adalah ketika saya memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang amat sangat berlainan dengan saya. Malah boleh dibilang satu-satunya hal yang sama diantara kita adalah kita ingin mempunyai keluarga. Selain dengan itu, perbedaan kita seperti langit dan bumi. Tetapi dia amat mapan dan oleh karena itu saya memutuskan untuk menikah dengan dia karena berharap saya tidak mengulang nasib mama saya. Dan karena memang kita amat sangat berlainan dan karena saya diharapkan untuk menjadi seseorang lain pada perkawinan tersebut (karena saya harus menyesuaikan diri kedalam kehidupan dia), maka perkawinan saya kandas setelah 12 tahun.

Belajar dari pengalaman tersebut dan dari tools yang diberikan oleh Access Consciousness, semua ini merubah pendekatan komunikasi saya terhadap anak saya.

1. Saya tidak menyalahkan

Sekarang ini, sebisa mungkin saya tidak menyalahkan anak atau orang lain. Karena kalau saya menyalahkan anak saya, maka kemungkinan saya akan membuat anak saya merasa kurang percaya diri dalam mengambil keputusan sendiri. Oleh karena itu, saya biasanya tidak menyalahkan tetapi memperlihatkan apa yang dia ciptakan dengan keputusannya dan apakah ada kemungkinan lain yang bisa diambil untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik lagi.

2. Saya selalu bertanya : bagaimana saya bisa menciptakan hasil yang lebih besar lagi dalam komunikasi ini tanpa "overloaded"?

Sebelum saya belajar Access Consciousness saya mengikuti motto " It is not my responsibility on how you intrepret my words" atau bukan tanggung jawab saya bagaimana Anda mengartikan kata-kata saya, tetapi setelah belajar dan mengajar Access Consciousness, saya selalu bertanya secara terus menerus kepada naluri saya sendiri tentang :

- Bagaimana cara komunikasi terbaik supaya saya bisa mencapai tujuan dari komunikasi ini?

- Sejauh mana dan seberapa informasi yang saya bisa sampaikan sehingga tidak membebani?

dan yang paling penting adalah : - Bagaimana supaya komunikasi ini menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi? Sehingga anak saya atau orang yang saya berkomunikasikan, dapat melihat kemungkinan yang lebih besar lagi yang tersedia dalam kehidupannya. Jadi didalam universe saya, saya tidak akan mengajukan kesimpulan kesimpulan mengenai sejauh mana potensi seseorang.

3. Memberikan pilihan

Sejak kecil, saya selalu memberikan anak saya pilihan sehingga mereka tahu bahwa mereka hidup didunia yang banyak pilihan. Yang saya lakukan adalah pilihan yang tentunya aman buat anak saya. Seiring dengan usia mereka, variasi pilihan yang mereka bisa ambil juga lebih besar. Oleh karena itu, mereka bisa mengambil keputusan atas hidup mereka sendiri dan mereka siap untuk menghadapi apa yang terjadi atas pilihan yang mereka ambil, tsb.

4. Being in allowance

Kalau dulu sebelum belajar dan mengajar Access Consciousness, saya suka ngotot dengan anak saya dalam mempertahankan pendapat saya atau atas pilihan dia yang saya anggap kurang tepat. Apalagi anak saya memang suka berdebat dan dia duduk sebagai President dari Debate Team di SMAnya. Setelah belajar Access Consciousness, saya tidak lagi mengotot, tapi biasanya saya akhiri dengan perkataan ini :

"Mungkin mommy bukan orang yang paling tepat untuk menjelaskan hal ini, tapi Mommy berharap suatu saat kamu bertemu dengan orang yang bisa melihatkan value dari pendapat mommy ini ".

Dan pujian yang paling tinggi saya dapatkan dari anak saya adalah " Mommy, I am very happy that you are my mommy. You are diffrent. Many of my friends are not able to have this debate with their parents" (Mommy, saya senang punya mommy seperti mommy. Mommy berbeda. Banyak teman saya yang tidak bisa melakukan perdebatan ide dengan orang tuanya).

Saya tidak menyatakan bahwa pendekatan saya paling tepat, tetapi saya berharap bahwa saya tidak mensabotase anak saya sendiri dengan perkataan yang mengecilkan hati anak saya. Saat ini kedua anak saya tinggal mandiri di Australia. Yang besar bekerja mandiri sebagai editor film dan yang kecil masih kuliah di Farmakology di Australia. Terkadang, saking dewasanya mereka, saya merasa kehilangan punya anak kecil. Tapi saya bersyukur di usia yang relatif muda, mereka bisa hidup secara mandiri dan bertanggung jawab.

Jadi pertanyaan saya untuk Anda adalah apakah Anda pernah merefleksi terhadap interaksi Anda dengan Anak Anda? Dalam interaksi Anda dengan anak, apakah Anda mempersiapkan si anak untuk terbang atau malah memotong sayapnya?

Photo courtesy of Quantum World: Awaken Your Mind


48 views